Minggu, 27 September 2026

Memasuki Trimester Kedua

Alhamdulillah… sekarang aku sudah memasuki trimester kedua.

Ya Allah, terima kasih atas penjagaan-Mu selama ini. Terima kasih karena Engkau sudah menemani dan menguatkanku melewati trimester pertama yang ternyata tidak mudah.

Trimester pertama benar-benar menjadi perjalanan yang panjang. Badan rasanya lemas sekali, mual, dan sempat mengalami diare sampai harus masuk rumah sakit. Ada hari-hari ketika aku hanya ingin beristirahat dan berharap semuanya baik-baik saja.

Tapi Alhamdulillah, satu per satu semuanya berhasil dilewati.

Kini memasuki trimester kedua, rasanya jauh lebih ringan. Mual sudah hampir tidak ada. Sesekali masih merasa begah, tapi dibandingkan dengan sebelumnya, aku jauh lebih menikmati hari-hari kehamilan ini.

Dan ada satu hal yang membuat semuanya terasa semakin nyata…

Gerakan kecilmu, Nak. 🥹

Kadang rasanya seperti gelembung kecil di dalam perut. Kadang seperti kupu-kupu yang lewat sebentar. Gerakannya masih sangat lembut dan belum selalu terasa, tapi setiap kali merasakannya, hati Mama langsung bahagia.

Ternyata ada kamu di sana.

Kamu sedang tumbuh.

Kamu sedang berproses menjadi seseorang yang suatu hari nanti akan Bunda peluk.

Terima kasih ya, Nak, sudah mau memilih Bunda dan ayah menjadi orang tua kamu.

Bunda mungkin belum menjadi ibu yang sempurna. Bunda juga masih sering khawatir dan banyak takutnya. Tapi bunda berjanji akan terus belajar, menjaga kamu, dan memberikan yang terbaik yang bunda bisa.

Semoga Allah selalu melindungi kamu di dalam rahim bunda. Menyempurnakan pertumbuhanmu, memberikanmu kesehatan, dan menjaga kita berdua sampai tiba waktunya kita bertemu.

Sampai nanti, Nak…

Tumbuhlah dengan sehat di sana.

Mama tunggu kamu. 🤍

I love you, little one.

Bunda, yang masih belajar menjadi seorang ibu.

Minggu, 02 Agustus 2026

Belajar Menjadi Seorang Ibu

Ternyata ibu yang pintar dan berpengetahuan itu dibutuhkan untuk menjadi madrasah bagi anaknya itu beneran nyata yah.

Di kehamilan ini aku bener2 belajar menghayati rasanya menjadi seorang ibu. Aku juga selalu mencari info agar anakku tumbuh sehat. Anak yg aku tunggu selama 7 tahun pernikahan. Tumbuh sehat terus bersama bunda ya nak...

Berbekal info dari threads dan Instagram, Alhamdulillah aku menemukan dokter sp.og yang bagus banget. Bahkan dokter ini sudah sub spesialis fetomaternal. Meski harus keluar kota Bekasi, bunda ayahmu rela menempuh jarak itu demi ingin berikhtiar menjaga km agar tumbuh sehat dalam kandunganbunda, hingga km lahir kedunia.

Dokter Iswan, klinik alakbar perwira Summarecon bekasi. MashaAllah aku seneng banget bisa bertemu dengan dokter ini. Pantas saja bahkan untuk bertemu dokter ini harus rebutan reservasi lewat google form satu Minggu sebelumnya bahkan tengah malam. Dan pas nyampai Bekasi aku menunggu cukup lama dari pukul 10 sampai pukul setengah 2 baru bertemu dokternya. Tapi dokter ini sangat worth it buat ditunggu. Sampai terharu bisa ketemu dokter sebaik ini.

Waktu masuk kedalam ruang periksa dan dokternya memeriksa, dokternya sangat lembut dan detail menjelaskan mengenai NT (Nuchal translucency), NB(nasal bone), adanya kemungkinan pendarahan, Alhamdulillah aku tidak ada. Terus bunda ditunjukkan plasenta km nak, lambung usus, jantung, MashaAllah semoga km tumbuh sehat ya nak. Bunda juga mendengarkan denyut jantung km lagi. Meleleh sekali rasanya. Dokter ini bener-bener detail memeriksa seluruh bagian rahim. Bahkan dia juga tahu kalo ternyata aku keputihan, dan harus dibersihkan. Alhamdulillah asisten dokternya perempuan jadi dia yg melakukan penanganan vaginal toilet (membersihkan keputihan didalam vagina) lumayan agak nyeri sih karena ada lat yg dimasukkan ke vagina. Tapi setelahnya lega sekali. Bismillah ini adalah ikhtiar bunda untuk menjaga km dalam kandungan bunda sayang.

I love you, my baby. more than words....

Minggu, 26 Juli 2026

Untuk Debay Kecil di Perut Bunda 🤍

Halo, sayangku...

Tahukah kamu? 

Saat usiamu baru sekitar 2 minggu setelah HPHT, bunda dan ayah sempat mengajakmu naik Gunung Papandayan. Waktu itu bunda sama sekali belum tahu kalau ternyata kamu sudah mulai tumbuh di dalam rahim bunda.

Kalau dipikir-pikir sekarang, bunda jadi terharu. Ternyata sejak awal kamu sudah menjadi bayi yang kuat. Di usia yang masih sangat kecil, kamu mampu bertahan dan terus berkembang dengan baik. Alhamdulillah, Allah selalu menjaga kamu.

Bunda juga ingat, sebelum tahu kalau sedang hamil, bunda rutin minum vitamin Caviplex warna kuning. Kata orang, di dalamnya ada asam folat yang baik untuk persiapan kehamilan. Mungkin itu juga menjadi salah satu ikhtiar kecil bunda untuk menyambut kehadiranmu, meski saat itu bunda belum tahu bahwa Allah sudah menitipkanmu.

Hari yang paling bunda ingat adalah ketika melihat test pack dengan dua garis merah. Rasanya campur aduk antara bahagia, haru, dan tidak percaya. Setelah penantian, doa, dan berbagai ujian yang pernah bunda lalui, akhirnya Allah mengizinkan bunda kembali mengandungmu.

Sekarang, setiap hari bunda berdoa agar Allah selalu menjagamu, menguatkanmu, dan menyempurnakan pertumbuhanmu di dalam rahim. Tetap sehat ya, sayang. Tumbuhlah dengan tenang di dalam pelukan kasih sayang Allah.

Nanti kalau kamu sudah lahir ke dunia, kita akan jalan-jalan bersama. Bunda dan ayah akan menemanimu melihat indahnya ciptaan Allah, sama seperti dulu, saat tanpa kami sadari, kamu sudah ikut menemani perjalanan pertama kita ke Gunung Papandayan.

Terima kasih sudah bertahan sampai hari ini, sayang. Bunda dan ayah sangat mencintaimu, bahkan sejak sebelum kami bisa melihat wajahmu.

🤍 Love,

Bunda & Ayah



Detak Jantung Pertamamu di Rahimku


Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta. (QS. Al-Mu'minun: 14)

Kehamilan kali ini benar-benar mengajarkanku bahwa firman Allah bukan sekadar untuk dibaca, tetapi kali ini aku benar-benar merasakan dan menyaksikan firman tersebut.

Dulu, ketika membaca QS. Al-Mu'minun ayat 14, aku hanya membayangkan bagaimana Allah menciptakan manusia dari setetes air mani, kemudian menjadi sesuatu yang melekat, segumpal daging, hingga akhirnya menjadi manusia yang sempurna. Kini, untuk pertama kalinya, aku menyaksikan sendiri proses itu melalui perjalanan kehamilanku.

Aku melihat garis dua pada test pack. Aku menunggu dengan penuh harap. Lalu melalui layar USG, aku melihat kantung kecil yang terus bertumbuh. Sampai akhirnya terdengar detak jantung mungil yang begitu kuat. Air mataku menetes. Rasanya mustahil semua itu terjadi tanpa kehendak Allah.

Setiap kali hasil USG menunjukkan perkembangan demi perkembangan, aku semakin yakin bahwa tidak ada satu pun proses penciptaan yang terjadi secara kebetulan. Semuanya berada dalam ilmu, kuasa, dan kasih sayang Allah. Bahkan ketika aku diliputi rasa cemas, Allah selalu mengingatkanku bahwa Dialah yang sedang membentuk kehidupan kecil itu di dalam rahimku.

Kini aku benar-benar memahami mengapa Allah menutup ayat tersebut dengan firman-Nya:

"Maka Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik." (QS. Al-Mu'minun: 14)

Ya Allah, terima kasih telah mengizinkanku menyaksikan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Mu. Jagalah amanah kecil yang sedang Engkau titipkan dalam rahimku. Jadikan ia anak yang sehat, saleh atau salehah, dan senantiasa berada dalam lindungan-Mu.

Subhanallah... Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.




Jumat, 16 Februari 2024

Pemilu

Di tanah air yang subur, cermin demokrasi bersinar, 

Namun, bayangan kecurangan datang menghampiri.

Suara rakyat tergantung pada suap dan duit,

Uang meluber, menggoda hati yang terpatri.

 

Pemilu yang tak jujur, rakyat disuap dengan logam,

Harga suara terjual, tanpa nilai yang sesungguhnya.

Bunga-bunga janji tumbuh dari tanah korupsi,

Pohon kebenaran tak mampu berkembang subur.

 

Makanan gratis dijajakan, namun pendidikan terabaikan,

Surga janji palsu, neraka ilmu yang terendam.

Rakyat terima, dengan perut penuh sementara,

Namun, masa depan terkoyak, mimpi tertahan.

 

Biji-biji uang bermunculan, di lahan hati yang gersang,

Rakyat terpesona oleh rayuan dunia yang menyilaukan.

Pemilu yang tak jujur, mempertaruhkan martabat,

Kejujuran terkubur, dalam lubang kepentingan liar.

 

Tapi, berdirilah wahai rakyat yang bijak,

Bentangkan sayap kritis, tolak arus suap dan rayuan.

Pendidikan adalah cahaya, bukan hanya lemparan makanan,

Bangun negeri ini, dengan suara yang jujur dan sejati.

 

Bersama-sama kita lawan, gelapnya malam ketidakjujuran,

Perjuangkan hak ilmu, tuntut keadilan dalam pilihan.

Pemilu yang bersih, cita-cita yang terpancar indah,

Indonesia, teranglah jalanmu di bawah bendera kejujuran.


Jumat, 12 Agustus 2022

Gerobak

 Saya ingat dulu pernah menangis di pinggir jalan, duduk menepi sendiri di bangku milik warung kecil. Waktu itu jam di hp saya menunjukkan pukul 7 malam. Keadaannya waktu itu saya putus asa sekali karena habis berantem sama suami, saya merasa marah sekali dengan dunia, kok gini amat ama saya-salah saya apa.

Kemudian lewatlah seorang kakek, dengan gerobaknya. Ia tampak ramah mengobrol dan bercanda-canda dengan pemilik warung. Saya hanya melirik mereka dan kemudian menundukkan wajah saya, menyeka air mata saya.

Kemudian bapak itu menghampiri saya, memberikan saya aqua gelas. “Ini neng, diminum… nangis kan butuh tenaga.”

Saya hanya tersenyum kepada kakek itu sambil menggelengkan kepala “enggak pak, terima kasih.” Dia tetap berdiri di hadapan saya sambil tetap menyodorkan aqua gelas tersebut. “Nggak apa-apa, minum aja. Tadi saya baru dapat rezeki lebih, saya yang bayar.” Saya tetap menolak, “enggak apa-apa pak, bapak aja yang minum. Saya masih banyak kok tenaganya buat nangis” saya tersenyum tapi tetep air mata netes terus.

Kemudian bapak itu meletakkan aqua gelas itu di sebelah saya dan berkata, “Saya taru sini aja ya neng…” saya tetap menangis, menunduk, tidak mengiyakan kakek tersebut.

Kemudian sebelum ia pergi kembali ke gerobaknya ia berkata, “Setiap orang punya masalah masing-masing kok mbak, ujian yang berat menandakan mbak adalah orang yang kuat, orang terpilih yang mampu untuk melalui setiap proses.”

Saya menengok ke wajahnya yang tampak tulus sekali. Seperti tidak ada beban. Tidak ada kekhawatiran yang tampak dari wajahnya. Adem banget.

Kemudian saya malah jadi memperhatikan si kakek itu yang pergi kembali menarik gerobaknya. Berjalan, ke arah tanjakan. Dengan tubuhnya yang kurus dan bungkuk, berjalan pelan menanjaki jalanan dengan gerobaknya.

Kemudian saya memperhatikan segelas aqua yang di sebelah saya. Dan dalam hati tiba-tiba saya merasa terenyuh sekali. Ya Tuhan, dengan segala yang kumiliki… kenapa… kenapa aku nggak bisa jadi seperti kakek itu. Yang masih bijak dalam menghadapi hidup meski tubuhnya seperti sudah tidak mampu lagi untuk berdiri tegap.

Buat temen-temen khususnya yang mungkin sedang bergelut dengan keadaan ekonomi, menganggur, dan sedang berusaha untuk mencari pekerjaan. Sepahit-pahitnya hasil yang kamu dapatkan atau masalah yang kamu sedang lalui, tidak usah berlarut dengan keputus asaan ya. Dari kakek itu saya dapat melihat, masih ada orang yang dapat berlaku baik dan bijak ke orang lain, dengan segala keterbatasannya.

Kamis, 03 Maret 2022

Tenang

Tenang, tenang yang tak kunjung datang.

Menanti-nanti cahaya-Mu, beri aku petunjuk-Mu.

Kadang-kadang kelam ini datang menghampiri,

Jauhkanku dari gelap itu.

Aku kembali pada-Mu.

Pandemic COVID mungkin akan segera berakhir. Atau mungkin kita akan beradaptasi dengannya. Tapi mungkin luka-luka yg ditinggalkan setelah pandemic masih akan menganga, orang-orang yg kehilangan pekerjaannya, orang-orang yg kehilangan orang yg dicintainya. Efek cemas yg timbul setiap harinya yang belum sempat disembuhkan. Pada siapa lagi diri kembali, selain berpasrah kepada-NYA.

Buat kita yang ga baik baik aja, makasih udah bertahan sejauh ini. 

Kita semua sakit, cuma dengan cara yang berbeda

Dan menyerah bukan pilihan.

Kita bisa membohongi semua orang tapi tidak dengan hati kita. Tetap tumbuh walau sering runtuh. Tetap tumbuh walau hati lebam membiru.